Rabu, 01 Maret 2017
JENDERAL SOEDIRMAN
Jend. Soedirman lahir di Purbalingga, 24 Januari 1916. Semenjak muda Jend. Soedirman sudah bergabung dengan organisasi Islam Muhammadiyah, bahkan menjadi pemimpin kelompok pemuda Muhammadiyah.
Jend. Soedirman adalah seorang perokok kelas berat dan sudah merokok sejak remaja. Hal ini pula yang menjadi penyebab penyakit tuberkulosisnya hingga paru-paru kanannya harus dikempeskan pada bulan November 1948.
Pendidikan militernya diawali dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor lalu diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya.
Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel.
Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Lalu pangkat Jenderal Besar Bintang Lima (anumerta, 1997). Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer, tapi karena prestasinya.
Jend. Soedirman aktif memimpin dalam beberapa pertempuran seperti di Ambarawa yang membuat Sekutu mundur ke Semarang. Tetapi jasanya yang paling tidak terlupakan adalah saat memimpin perang gerilya terhadap Belanda di daerah Yogyakarta dalam keadaan paru-paru tinggal sebelah yang membuatnya harus ditandu selama berperang.
Jend. Soedirman meninggal pada 29 Januari 1950, berselang satu bulan setelah pengakuan Belanda atas kedaulatan RI. Kematian Soedirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometre (62 mil) yang ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar